Seorang petugas memeriksa pipa-pipa gas Rusia di salah satu kota di Belarusia, beberapa tahun silam. Rusia menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan gas Eropa selama beberapa dekade. (Foto: Reuters)
Ahmad Islamy Jamil

ROMA, iNews.id Italia tampaknya masih belum bisa melepaskan ketergantungan gas dari Rusia. Kalaupun harus menghentikan impor gas dari Moskow, negeri pizza itu harus mampu mendapatkan sumber energi alternatif yang memadai.

Menteri Transisi Ekologi Italia, Roberto Cingolani berpendapat, negaranya bisa saja bertahan hidup tanpa tambahan impor gas alam Rusia untuk beberapa bulan ke depan. Itu bisa terjadi berkat cadangan energi yang cukup di Italia.

“Jika kita harus segera menangguhkan impor Rusia, maka beberapa bulan ke depan tidak akan kritis. Karena kita memiliki cadangan–mereka memang tidak besar, tetapi cukup besar–untuk bertahan hidup dalam beberapa bulan mendatang,” katanya kepada lembaga penyiaran Italia Radio24, Senin (4/4/2022).

Cingolani menuturkan dia tetap berhubungan dengan mitra Eropa, seperti Jerman dan Prancis, setelah Moskow menuntut agar para importir Eropa membayar rubel untuk gas alam yang mereka beli dari Rusia.

Saat ini, Pemerintah Italia telah menjajaki opsi untuk memperoleh sumber gas alam dari Aljazair, Azerbaijan, Tunisia, dan Libya untuk persediaan menjelang musim dingin. 

Menteri Luar Negeri Rusia, Luigi Di Maio, juga telah mengunjungi negara-negara kaya hidrokarbon sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri ketergantungan pada Rusia.

Pada Kamis (31/3/2022) pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekret terkait jual beli gas Rusia. Menurut dekret itu, setiap pembeli asing harus membayar gas Rusia  dengan rubel mulai Jumat (1/4/2022). 

Kontrak pembelian akan dihentikan secara sepihak oleh Moskow jika pembeli tidak bersedia membayar dengan mata uang Rusia tersebut.

Dekret yang dikeluarkan Putin kali ini sebagai balasan atas sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat (AS dan Uni Eropa) terhadap Rusia, menyusul serangan pasukan Moskow ke Ukraina sejak Februari lalu.



Editor : Ahmad Islamy Jamil

BERITA TERKAIT