Trump sebelumnya memberlakukan operasi ekonomi untuk menekan Iran dengan menutup akses negara tersebut terhadap sumber pendapatan. AS juga mengancam negara-negara yang masih melakukan kerja sama ekonomi dengan Iran.
Meski demikian, Trump menepis anggapan bahwa operasi ekonomi berarti Washington mengesampingkan opsi militer. Dia menegaskan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran masih tersedia.
Menurut Trump, AS masih ingin melihat sejauh mana tekanan ekonomi memberikan dampak terhadap Iran sebelum menentukan langkah berikutnya.
Trump juga kembali menyerukan agar AS mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia, serta wilayah di sekitarnya.
Namun, klaim Trump bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz belum terlihat di lapangan. Lalu lintas kapal melalui selat tersebut masih jauh di bawah kondisi sebelum perang akibat tingginya risiko keamanan, termasuk serangan terhadap kapal-kapal dagang.
Lembaga pengawas perdagangan maritim Inggris, UKMTO, mengungkapkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz turun sekitar 90 persen dibandingkan kondisi sebelum perang pada 28 Februari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun Trump mengklaim Iran berada dalam kondisi sekarat, situasi keamanan di Selat Hormuz masih menjadi persoalan serius bagi perdagangan dan pelayaran internasional.