Trump Tuduh China Pegang 220 Juta Data Pemilih AS, Sebut Skandal Terbesar dalam Sejarah

Anton Suhartono
Donald Trump menuduh China menguasai 220 juta data pemilih dan menyebutnya sebagai skandal terbesar dalam sejarah pilpres negara itu (Foto: AP)

"Seperti dinyatakan dalam salah satu penilaian, kami menilai bahwa musuh-musuh Amerika Serikat, termasuk setidaknya Rusia, China, Iran, Korea Utara, serta aktor-aktor non-negara, memiliki kemampuan untuk membahayakan infrastruktur pemilu AS," katanya.

Trump mengeklaim pengungkapan tersebut membuktikan sistem pemilu AS sangat rapuh dan rentan terhadap campur tangan pihak asing. Menurutnya, sistem seperti itu tidak layak dipertahankan.

"Ratusan juta berkas pemilih AS berada di tangan pemerintah asing," ujarnya.

Dia juga mengklaim terdapat ratusan ribu warga asing serta orang yang telah meninggal dunia masih tercantum dalam daftar pemilih tetap.

Trump menambahkan, Menteri Keamanan Dalam Negeri akan memberikan pengarahan mengenai temuan terbaru yang disebut mengonfirmasi adanya kerentanan siber dalam sistem pemungutan suara elektronik di Amerika Serikat.

"Besok, Menteri Keamanan Dalam Negeri (Markwayne Mullin) akan memberikan pengarahan untuk menjelaskan tugas departemennya baru-baru ini, mengonfirmasi kerentanan siber dalam sistem pemungutan suara elektronik kita, kerentanan tersebut buruk," tuturnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
13 jam lalu

Trump Sebut Putin Tak Akan Serang Negara NATO: Saya Sudah Bicara Dengannya

13 jam lalu

Banjir Bandang Grand Canyon AS, 2 Orang Tewas Puluhan Masih Hilang

17 jam lalu

Presiden Iran Peringatkan AS: Kami Tak Ingin Perang, tapi...  

1 hari lalu

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.722 per Dolar AS

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal