"Saya pribadi kecewa karena saya berharap bahwa pertandingan bisa diadakan di Jakarta," ujar Pramono.
Sementara itu, Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, menegaskan kekecewaan mendalam lantaran mereka sudah sangat lama tidak merasakan atmosfer laga klasik tersebut di ibu kota.
“Yang pertama gini, udah pasti yang paling kecewa dengan situasi ini adalah Jakmania. Kenapa? Karena kekecewaan kami sudah 7 tahun kami tidak menggelar pertandingan Persija-Persib di Jakarta. Terakhir 2019 saat itu,” katanya kepada awak media di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Diky menilai, The Jakmania sebenarnya sudah menunjukkan perubahan signifikan dalam hal keamanan dan penerimaan suporter tamu. Dia mencontohkan beberapa laga sebelumnya yang berjalan kondusif tanpa insiden berarti.
“Itu kan sudah dilihat bagaimana ketika teman-teman Solo, teman-teman Malang, teman-teman Jepara, teman-teman Jogja, bahkan teman-teman Surabaya pun datang ke Jakarta, mereka pulang dengan aman dan nyaman,” tuturnya.
Dia menambahkan, komitmen menjaga ketertiban selalu menjadi prioritas utama bagi The Jakmania, terutama saat Persija bermain di kandang sendiri.
“Dari situ kita bisa terlihat bagaimana Jakmania memang konsen sekali untuk menjaga keamanan dan ketertiban apalagi di kotanya, apalagi di Jakarta gitu loh,” imbuhnya.