BNPT mengungkap, proses rekrutmen dimulai dengan membangun kedekatan emosional lewat kesamaan hobi. Anak-anak diajak merasa nyaman dan memiliki keterikatan dengan pelaku.
“Jadi pertama tahapannya kalau tadi melalui voice chat, pertama adalah istilah kami adalah digital grooming. Di sini digital grooming ini dijadikan tempat untuk sarana membangun empati, sama-sama kita satu hobi,” kata Eddy.
Setelah itu, korban diarahkan untuk merasa satu nasib dan perlahan dipengaruhi. Komunikasi kemudian dipindahkan ke platform lain seperti WhatsApp atau Telegram untuk memperkuat doktrin.
“Nah, setelah digital transformasi ini dilakukan dan mereka satu grup misalkan dalam main game itu sama-sama merasa satu senasib, satu hobi misalkan baru nanti diundang keluar. Di sosial atau di platform yang lain seperti di WhatsApp ataupun di Telegram,” ujarnya.
Upaya pencegahan berhasil dilakukan sejak awal 2025. Namun, BNPT menegaskan ancaman terhadap anak-anak masih nyata jika pengawasan orang tua lemah.