Dia menuturkan, terkhusus untuk kedua pasien yang baru dinyatakan positif terkena virus korona, pengukuran suhu tubuh tidak lagi menjadi patokan, karena suhu keduanya telah diintervensi menggunakan obat pereda demam. Mereka dipastikan Yuri terinfeksi virus korona karena sempat melakukan kontak dekat pasien kasus satu.
“Sebetulnya kita tidak usah mengacu itu (panas tubuh), wong sudah ngomong juga punya kontak dekat dengan korban nomor satu. Orang tidak panas atau enggak apa kalau memang punya kontak dekat pasti akan kami isolasi, apalagi akhirnya kan ini positif,” ungkapnya.
Selain itu, kondisi kesehatan para pasien terduga virus korona yang diisolasi semakin membaik. Kendati demikian, dengan kondisi tersebut Yurianto tidak ingin menggampangkan persoalan. Berkaca dari kasus yang ada di Vietnam, kata dia, otoritas kesehatan Vietnam sampai melakukan pemeriksaan sampai tujuh kali dan hasil terus menunjukan negatif. Ketika di pemeriksaan kedelapan baru menunjukan hasil positif.
“Tapi kan pada waktu pengalaman di Vietnam ada yang diperiksa-periksa sampai tujuh kali negatif, lama-lama hasilnya positif. Meskinya kita harus hati-hati betul ini,” ungkapnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus positif virus korona di Indonesia. Kasus virus korona pertama dan kedua di Indonesia dilaporkan terjadi pada seorang ibu berusia 64 tahun dan anaknya yang berusia 31 tahun di Depok, Jawa Barat.