3. Ditulis dalam Dua Bahasa
Menariknya, Broken Strings tersedia dalam dua versi bahasa, yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Hal ini membuat buku tersebut tak hanya dibaca oleh publik Tanah Air, tetapi juga menjangkau pembaca internasional.
4. Mengangkat Isu Child Grooming yang Jarang Dibahas di Ruang Publik
Salah satu alasan buku ini mengguncang publik adalah keberanian Aurelie mengungkap pengalaman menjadi korban child grooming sejak usia remaja. Buku ini menjelaskan bagaimana manipulasi emosional, ketimpangan usia, dan relasi kuasa bisa terjadi perlahan hingga korban tak menyadarinya.
5. Viral karena Banyak Pembaca Merasa 'Relate' dan Tersentuh
Sejak dibagikan, Broken Strings menuai ribuan respons emosional dari pembaca. Banyak yang mengaku tersentuh, merasa terwakili, bahkan baru menyadari bahwa pengalaman yang mereka alami serupa dengan yang diceritakan Aurelie. Efek inilah yang membuat buku tersebut menyebar cepat di media sosial.
Broken Strings bukan sekadar buku selebritas, melainkan ruang pengakuan, penyembuhan, dan pengingat bahwa isu kekerasan emosional serta manipulasi terhadap anak masih nyata terjadi. Keberanian Aurelie Moeremans membuka kisah pribadinya pun menuai banyak apresiasi dari publik.