Meski memiliki pasar digital yang besar, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kesiapan teknologi mutakhir. Sejumlah aspek yang perlu diperkuat meliputi pemerataan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), aktivitas industri, serta pembiayaan.
“Ekonomi digital kita terbesar di Asia Tenggara dengan nilai 100 miliar dolar AS, tetapi kesiapan teknologi mutakhir masih peringkat 76 sehingga butuh perbaikan ekosistem dan keahlian tenaga kerja lewat penguatan pendidikan hingga human capital readiness,” jelasnya.
Menurut AHY, pemanfaatan digitalisasi dan AI harus memberikan dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, dan daya saing nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengembangan jaringan digital perlu berjalan beriringan dengan penyediaan energi berkelanjutan serta infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara.
Konektivitas transportasi dibutuhkan untuk mendukung rantai pasok logistik, termasuk kegiatan perdagangan elektronik atau e-commerce. Karena itu, koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus didorong untuk menyelesaikan pembangunan jaringan transmisi.
“Setelah kita hadirkan e-commerce, aktivitas itu tetap membutuhkan transportasi darat, laut, dan udara, sekaligus membutuhkan investasi besar untuk menggelar submarine cables, fiber optic, hingga mobile networks,” ujar AHY.