Mantan anggota DPR empat periode ini mengatakan, dasar perjuangan menyelesaikan persolanan kemiskinan itu sudah diperintahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45). Namun, hingga kini, penurunan kemiskinan tersebut sangat lambat.
Menurutnya, pendataan orang miskin itu sangat gampang, karena sudah jelas alamat, tempat, orang, dan kondisinya. Bahkan semua sudah punya konsepsi tentang orang miskin. Namun, kata ida, penurunannya sangat lambat dari tahun ke tahun.
“Sepanjang kita merdeka, berada pada posisi yang sangat lambat, hingga Pak Jokowi berhasil menurunkan kemiskinannya. Tapi penurunan kemiskinan itu hanya 850.000. Bayangkan APBN kita 5 tahun pemerintahan Pak Jokowi ini sekitar 2000 triliun per tahun, jika dikali 5 tahun pemerintahan kan ada 10.000 triliun. Kalau kita mau breakdown dialokasikan kepada orang-orang miskin yang alamatnya jelas, orangnya jelas, tapi tidak jelas-jelas nasibnya, tidak sampai lima tahun kemiskinan sudah tuntas." bebernya.
Untuk itu, Ida menjelaskan, ada empat persoalan yang perlu diselesaikan pemerintah. Pertama, pemerintah belum bisa merampungkan pendataan. Namun, pihaknya menyambut baik inisiatif Presiden Joko Widodo yang ingin mencanangkan program Satu Data Nasional.
"Saya rasa ini pintu masuk yang cukup baik untuk mengidentifikasi persoalan data. Mudah-mudahan Pemerintah Daerah (Pemda) juga aware terhadap data ini," ujar Ida.
Kedua, problem selama ini adalah tidak terintegrasikannya program dan kegiatan di kementerian. "Jangankan antar kementerian dan lembaga, dalam satu kementerian saja kita juga belum mampu mengintegrasikan itu," ujarnya.
Ketiga, integrasi dan keterlibatan dunia usaha terhadap pengentasan kemiskinan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). "Ada BUMN besar dan ada korporasi besar, tapi kemiskinan ada di depan mata di daerah korporasai atau BUMN tersebut. kenapa? karena persolaan CSR itu bukan menjadi bagian pengentasan kemiskinan di daerah tersebut," terang Ida mencontohkan.
Keempat, partisipasi masyarakat. "Kelihatannnya sepele, tapi kita hampir kesulitan merumuskan partisipasi masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh negara adalah me-manage bagaimana partisippasi itu dilakukan. Saya yakin masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang guyub rukun, dan itu tugasnya pemerintah bagaimana menumbuhkannya. Harusnya itu menjadi sebuah program," pungkasnya.
Selain Ida Fauziyah, FGD ini juga menghadirkan beberapa nara sumber, yaitu Wakil Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang; Kepala Biro Perencanaan Kementerian Sosial Adhy Karyonno, Direktur Smeru Research Institute Asep Suryahadi, Sekretaris Dewan Nasional KKIPK Fakhrulsyah Mega; dan Dewan Pakar Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Suratman.