Bahlil mengatakan, saat ini pemerintah tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS tersebut dapat dilakukan dalam waktu tiga tahun.
Bahlil menyebut pada tahun ini pemerintah menargetkan peluncuran sekitar 5,5 GW kapasitas PLTS. Sementara itu, proses tender untuk sekitar 25-30 GW direncanakan mulai berjalan.
"Khusus untuk PLTS 100 gigawatt kami rencanakan tiga tahun. Di tahun ini kita selalu luncurkan kurang lebih bisa kita 5,5 gigawatt pertama. Dan dalam perencanaan itu kurang lebih sekitar 25 sampai dengan 30 gigawatt proses tendernya harus mulai berjalan," katanya.
Dia menegaskan penyederhanaan proses tender tetap diarahkan untuk menghasilkan proyek yang ekonomis dan memberikan manfaat bagi para pihak.
"Yang penting bisa saling menguntungkan dan win-win. Itu the win-win-win," ujar Bahlil.
Selain percepatan proses tender, pemerintah membuka ruang bagi dunia usaha untuk berpartisipasi dalam pengembangan proyek energi terbarukan. Bahlil mengatakan kebutuhan pembangunan listrik dalam RUPTL 2025-2034 mencapai 69,5 GW, dengan sekitar 70 persen diarahkan menggunakan energi baru terbarukan.