Bahlil menjelaskan, gangguan pasokan terjadi akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Pulau Jawa ke Bali. Kondisi tersebut sempat menurunkan ketahanan cadangan BBM di Bali sekitar tiga hingga empat hari.
"Di beberapa hari kemarin terjadi penurunan cadangan sekitar 3 sampai 4 hari karena ada keterlambatan kapal yang membawa BBM dari Jawa ke Bali. Tapi mulai hari ini cadangan di wilayah Bali rata-rata sudah mencapai 11 sampai 12 hari, jadi alhamdulillah sudah bisa teratasi," kata Bahlil.
Untuk memperkuat pasokan, pemerintah meminta Pertamina menambah armada kapal pengangkut BBM dari Jawa ke Bali, dari semula tiga menjadi tujuh kapal. Penambahan ini diharapkan memperlancar pengiriman sekaligus menjaga ketersediaan BBM di tengah kebutuhan masyarakat.
Bahlil juga menjelaskan, ketahanan pasokan BBM di Bali ditopang dua fasilitas penyimpanan utama, yakni Integrated Terminal Manggis di Kabupaten Karangasem dan Fuel Terminal Sanggaran di Denpasar. Kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas penyimpanan dan ketahanan stok yang berbeda.
"Terminal Sanggaran volumenya tidak sebesar Manggis, cadangannya sekitar 4 sampai 5 hari sementara di Manggis di atas 11 hari. Untuk mempercepat prosesnya, armada kapal yang melayani distribusi dari Jawa ke Bali saya minta ditambah dari semula tiga menjadi tujuh kapal," tuturnya.
Di tingkat nasional, Kementerian ESDM memastikan cadangan BBM masih berada pada level aman. Pemerintah kini memperkuat keandalan distribusi antardaerah agar keterlambatan pengiriman tidak kembali mengganggu pasokan di wilayah tertentu.
"Cadangan nasional kita berada di atas 16 sampai 18 hari untuk Pertalite RON 90, sementara jenis lain rata-rata di atas 20 hari. Secara stok nasional tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sekarang distribusinya yang kita perlancar dari satu kota ke kota lain dengan meminta Pertamina menambah armada," katanya.