Yuliot menjelaskan batu bara tersebut nantinya diproses menjadi metanol. Produk itu akan memasok kebutuhan industri, terutama sektor petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.
"Jadi metanol itu kan bisa digunakan sebagai pencampuran bahan bakar minyak," tambahnya.
Fasilitas pengolahan batu bara menjadi metanol di Kalimantan Timur dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Proyek tersebut berada di kawasan BCIP, Bengalon, Kutai Timur.
BEC merancang fasilitas tersebut untuk mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg setiap tahun. Batu bara kalori rendah itu diproses melalui teknologi gasifikasi untuk menghasilkan metanol dengan standar internasional International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Kapasitas produksi ditargetkan mencapai sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Hasil produksi akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor metanol.