“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC,” kata Seto dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/10/2026).
Seto menegaskan, penyemaian dry ice dalam operasi tersebut memiliki tujuan berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. BMKG secara khusus menyasar lapisan inversi yang menahan asap serta melakukan intervensi pada lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.
Langkah ini menjadi alternatif taktis ketika kondisi langit cenderung kering dan jumlah awan potensial untuk disemai terbatas.
Untuk mengevaluasi hasil intervensi, BMKG memantau sejumlah parameter terukur, terutama peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara. Kedua indikator tersebut digunakan untuk menggambarkan perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak, termasuk kawasan di sekitar objek vital seperti bandar udara.
Seto menyampaikan, pemantauan selama beberapa hari pelaksanaan menunjukkan indikasi perbaikan kondisi di sejumlah wilayah. Salah satunya di Palembang, ketika jarak pandang berangsur membaik setelah intervensi dilakukan.