"Jepang, Singapura. Singapura sudah bersurat. Kita lihat lagi, kita list mereka sudah menyerahkan beberapa bantuan, seperti masker, air minum, dan pesawat Hercules C-130 ya. Tapi kan kalau kita punya pesawat C-130 sendiri, ya kenapa harus pinjem dari orang luar gitu ya. Ya kan. Kita lihat keefektifan yang ditawarkan oleh mereka itu apa. Gitu ya," ujarnya.
Dia menegaskan, pemerintah tidak menutup kemungkinan menerima bantuan asing selama peralatan yang ditawarkan memang dibutuhkan untuk menangani kebakaran.
"Ya saya kira kalau emang kita butuh dan kita nggak punya ya, why not? Tapi kalau kita punya kenapa harus susah-susah minta. Gitu ya. Toh kalau contoh pesawat Hercules, negara lain menawarkan ini lho ada pesawat C-130, lha kita juga ada, kan lebih efektif kita gunakan, ya. Kenapa harus kita pinjem," katanya.
Menurut Kristomei, keterbukaan terhadap bantuan negara lain tetap disertai pemeriksaan terhadap jenis dan manfaat bantuan yang ditawarkan. Pemerintah ingin memastikan dukungan tersebut sesuai dengan kebutuhan penanganan karhutla di lapangan.
"Nggak masalah, nggak ada masalah kita terbuka kok dan memang sudah dibuka untuk kalau memang ada kita, kita sanggup kita ada bantuan dari luar ya kita terima, cuma kan kita lihat dulu bantuan itu apa dulu, gitu ya," tuturnya.