Sementara itu, pria yang meraih gelar Master dari Universitas Ulum Islamiyah Wal Arabiyah Damaskus, Suriah ini pun menyampaikan perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham. Dengan berpikir moderat, akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda.
"Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia sehingga siapapun yang berbeda dengan dia dianggap sesat," ucap Makmun.
Direktur Rahmi (Rahmatan Lil Alamin) Center ini juga mendorong pemerintah untuk terus mengerahkan upaya lebih dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme di tengah kemajuan teknologi. Menurut mantan Rais Syuriah NU di Jepang, jika seseorang memahami agamanya dengan baik, secara otomatis akan bisa menerima Pancasila dengan benar karena nilai-nilai Pancasila selaras dengan ajaran Islam.
"Yang terjadi sekarang kan dalam memahami ajaran agama saja mereka banyak memiliki permasalahan dalam memahaminya sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu yang hilang dari pemahaman mereka. Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi, radikalisme seperti yang terjadi sekarang ini," tuturnya.
Itulah kenapa menurut Khariri, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman keagamaan. Untuk itu perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar.