JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis potret terkini kondisi pangan nasional untuk periode Januari hingga Juli 2026. Laporan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai fluktuasi produksi padi, beras, hingga jagung yang menjadi tumpuan utama konsumsi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan hasil amatan terbaru, luas panen padi sepanjang Januari-Juli 2026 diprediksi mencapai 7,20 juta hektare. Angka ini naik tipis 0,001 juta hektar atau sekitar 0,02 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Namun, geliat positif pada luas lahan ini tidak serta merta diikuti oleh volume produksi yang melimpah. Pada April 2026, produksi gabah kering giling (GKG) tercatat sebesar 7,63 juta ton, sebuah angka yang menunjukkan penurunan signifikan sebesar 16,03 persen dibandingkan capaian April 2023 yang mencapai 9,09 juta ton.
Tren penurunan ini diperkirakan masih akan membayangi hingga pertengahan tahun. BPS memproyeksikan total produksi padi selama tujuh bulan pertama tahun ini akan berada di angka 38,11 juta ton GKG, atau terkoreksi 0,34 persen dibandingkan tahun 2025.
BPS secara konsisten melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan data di sektor pertanian tanaman pangan. Langkah ini diambil guna memastikan akurasi data yang akan menjadi basis kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
"Produksi padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 0,13 juta ton GKG dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini dalam paparannya di agenda Berita Resmi Statistik, Selasa (2/6/2026).
Sejalan dengan kondisi tersebut, produksi setara beras untuk konsumsi masyarakatjuga mengalami penyesuaian. Pada April 2026, produksi beras berada di angka 4,40 juta ton, turun dari posisi 5,23 juta ton pada April tahun lalu. Secara akumulatif, total produksi beras periode Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 21,95 juta ton, turun tipis 0,35 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk lokasi panen, potensi terbesar sepanjang Mei hingga Juli 2026 terkonsentrasi di Pulau Jawa, meliputi Jawa Barat (Indramayu, Karawang, Subang, Cianjur, Sukabumi, Cirebon), Jawa Tengah (Pati, Sragen, Blora, Demak, Grobogan, Kebumen), hingga Jawa Timur (Bojonegoro, Lamongan) dan Banten (Pandeglang, Lebak). Luar Jawa pun turut berkontribusi, mulai dari Sumatera (Banyuasin, Lampung Timur, Aceh, dan lainnya), Sulawesi Selatan (Pinrang), Kalimantan Selatan, hingga kawasan Nusa Tenggara (NTB dan NTT).