Di sisi lain, komoditas jagung menunjukkan performa yang cukup dinamis pada awal kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen jagung pipilan pada April 2026 mencapai 0,24 juta hektar, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu.
Peningkatan luas lahan pada bulan April tersebut nyatanya memberikan dampak instan pada volume produksi jagung pipilan kering nasional. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi sektor pakan ternak dan industri olahan yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan jagung.
"Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada April 2026 mencapai 1,38 juta ton, di mana angka ini lebih tinggi dibandingkan April 2025 yang sebesar 1,27 juta ton," tuturnya.
Meski demikian, BPS mengingatkan adanya potensi penurunan luas panen jagung pada periode Mei-Juli 2026 sebesar 4,71 persen. Secara total, produksi jagung Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 9,75 juta ton, menurun 2,81 persen dari periode yang sama tahun 2025. Angka ini sudah mencakup tanaman jagung yang dipanen muda maupun untuk hijauan pakan ternak.
Pudji menekankan bahwa seluruh proyeksi ini masih bersifat dinamis dan sangat bergantung pada realisasi di lapangan. Faktor eksternal seperti perubahan cuaca dan serangan hama tetap menjadi variabel yang paling sulit diprediksi namun berdampak masif.
Ketidakpastian iklim dan dinamika organisme pengganggu tanaman menjadi alarm bagi para petani dan pemangku kepentingan untuk tetap waspada. BPS menegaskan bahwa data yang ada saat ini merupakan hasil amatan terkini yang bisa saja bergeser mengikuti kondisi alam.
"Angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi seperti serangan hama, banjir, kekeringan, serta waktu pelaksanaan panen oleh petani dan lain sebagainya," ucap Pudji.