"Dolar yang kita dapat dari hasil ekspor, kemudian dolar yang datang dalam bentuk investasi, itu dolar yang cakep tuh dua nih, satu sehat, satu bestie. Ada lagi dolar 'baper', dolar yang baper itu selalu bereaksi terhadap setiap kebijakan pemerintah yang contohnya Pak Prabowo ingin melakukan proses industrialisasi, ingin membangun produksi domestik, ingin mendorong produktivitas rakyat," tuturnya.
Lebih lanjut, Budiman menyoroti posisi Indonesia dalam Straight jacket Trilemma, sebuah teori ekonomi yang menyebutkan negara harus memilih antara demokrasi, kedaulatan, atau integrasi global. Indonesia memilih untuk tetap berintegrasi dengan ekonomi global namun dengan kedaulatan yang mutlak.
Dia menyebut, Indonesia adalah negara yang sangat demokratis dalam hal pemilihan pemimpin, sehingga kini saatnya memfokuskan energi pada kemandirian pangan dan energi.
Dunia saat ini dianggap sedang mengalami "likuifaksi" atau pencairan basis ekonomi dan politik global. Budiman meyakini bahwa meskipun rupiah sedang tertekan, langkah Indonesia yang mulai meninggalkan ketergantungan pada ekspor bahan mentah menuju hilirisasi industri adalah langkah yang sudah tepat.
Budiman meyakini bahwa langkah Indonesia saat ini merupakan sebuah transformasi besar dalam cara negara memandang dan mengelola sumber daya ekonominya. Pergeseran paradigma ini diyakini akan membawa kedaulatan yang lebih kokoh meskipun tantangan di tingkat global masih terus bergerak dinamis.
"Indonesia ini on the track, hasilnya tidak cepat, pasti hasilnya pasti tidak cepat. Yang namanya pindah mazhab, ini pindah agama ekonomi ini; mazhab monetaris ke mazhab fiskal, mazhab neoklasik ke mazhab Keynesian, mazhab spekulasi ke mazhab produktivitas," ucapnya.