Bahlil kemudian melontarkan candaan mengenai perbedaan warna kulit saat melakukan negosiasi dengan mitra dari Afrika.
"Coba kalau yang gagah-gagah yang putih-putih lobi sama Afrika, belum bicara aja dibilang, 'Ah, kau beda sama kita.' Jadi ada benarnya juga kita hitam-hitam ini jadi Menteri Energi itu dalam kondisi kayak begini. Hitam tapi paten. Ini nggak lembe barang ini," tuturnya.
Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan minyak domestik. Konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi atau lifting minyak dalam negeri berada di kisaran 600.000 barel per hari.
Dengan selisih tersebut, Indonesia masih membutuhkan pasokan dari luar negeri sekitar 1 juta barel per hari. Karena itu, pemerintah berupaya memperluas sumber impor agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi ketika terjadi gangguan pasokan dari kawasan tertentu.
Bahlil mengatakan, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan para menteri energi dari berbagai negara untuk mengamankan pasokan. Upaya tersebut dinilai semakin penting di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta kelompok Houthi yang berpotensi mengganggu arus logistik dan ketahanan energi global.
“Beberapa bulan terakhir saya melakukan komunikasi dengan menteri-menteri energi di hampir semua dunia,” tuturnya.