Indonesia juga tidak berbeda dengan China dan AS. Pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat bahwa virus Covid-19 tidak akan menyebar ke Indonesia karena beberapa alasan. Sebut saja seperti karena memiliki alam tropis, selalu mengonsumsi rempah-rempah hingga karena suka makan nasi kucing, walaupun disampaikan dalam konteks bercanda.
Mereka yang berusaha mengkritisi kebijakan pemerintah dalam menghadapi virus ini juga mengalami perlawanan. China segera mengontrol media sosial WeChat, Weibo, QQ, Toutiao, Douyin, Zhihu, dan Tieba. Misalnya, Pemerintah China mulai mengontrol YY, sebuah platform streaming langsung di China, dengan menyensor kata kunci yang terkait dengan wabah coronavirus pada 31 Desember 2019. Satu hari setelah beberapa dokter, termasuk almarhum Dr Li Wenliang, mencoba memperingatkan masyarakat tentang virus yang saat itu tidak diketahui.
Di AS, Trump selalu mendikotomikan mereka yang mengkritik lambatnya pemerintah dalam menghadapi penyebaran virus sebagai kelompok oposisi dari Partai Demokrat, seperti yang diuraikan di atas. Sementara di Indonesia, beberapa aktivis media sosial yang mendukung pemerintah bahkan mematikan diskusi tentang seberapa besar kemungkinan penyebaran terjadi di Indonesia.
Caranya, dengan menuduh lawan bicara mereka sengaja ingin menciptakan kepanikan yang bertujuan menggoyang pemerintahan yang berkuasa. Fakta bahwa ada sebagian negara berupaya menyembunyikan fakta penyebaran virus Covid-19 dari masyarakat umum adalah dilema yang dihadapi dalam era post truth saat ini.
Kita menghadapi dilema tentang sumber informasi apa yang dapat dipercaya. Media sosial dan media daring lebih banyak mengejar click-bait dengan menuliskan judul-judul yang mengundang emosi dan menurunkan berita-berita yang belum terkonfirmasi atau berita-berita hoaks.