AHY menambahkan, RDMP Balikpapan memiliki peran strategis dalam mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Pemerintah. Proyek ini juga meningkatkan produksi LPG dari 48.000 ton per tahun menjadi 384.000 ton per tahun, sehingga berpotensi mengurangi impor LPG sekitar 4,9 persen.
“Kilang ini dirancang dengan kompleksitas yang lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan beragam produk bernilai tambah, seperti LPG, gasoline, hingga bahan baku petrokimia. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat industri dalam negeri,” ujar AHY.
Selain dampak pada sektor energi, RDMP Balikpapan mencatat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 35 persen serta menyerap lebih dari 24.000 tenaga kerja selama masa konstruksi. Hal tersebut dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dan daerah.
AHY menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur strategis yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pemerintah akan terus memastikan setiap proyek infrastruktur strategis tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi rakyat, memperkuat daya saing bangsa, dan menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” kata AHY.