JAKARTA, iNews.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini terus menjadi sorotan tajam. Namun, fenomena ini dinilai tidak boleh dilihat secara parsial karena merupakan bagian dari gejolak ekonomi yang juga melanda negara-negara Asia.
Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luthfi Ridho mengungkapkan pergerakan rupiah saat ini memiliki pola yang serupa dengan negara-negara peers seperti India, Filipina, dan Thailand. Meski secara persentase perubahan rupiah terlihat paling dalam, secara umum mata uang negara-negara tersebut juga tertekan akibat sentimen global.
Luthfi menjelaskan tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal, melainkan juga dipicu oleh lonjakan permintaan dolar di dalam negeri. Situasi yang disebutnya sebagai sentimen domestik ini terjadi akibat beberapa peristiwa besar yang jatuh pada waktu yang bersamaan.
"Nah domestik di sini itu terjadi karena berbagai macam event tersebut. Pertama ada dividen, bayar-bayar dividen dari sektor swasta, lalu ada musim haji, lalu ada impor BBM," ujar Luthfi dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Berkecamuk, Penyebab Rupiah Ambruk?' yang tayang di iNews, Selasa (2/6/2026).
Luthfi menekankan pemerintah terus berupaya merumuskan kebijakan agar iklim usaha dan kemudahan berbisnis di Indonesia semakin membaik.