JAKARTA, iNews.id - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator kondisi ekonomi Indonesia sedang mengalami krisis.
Budiman mengatakan, situasi ekonomi global saat ini tengah menghadapi perubahan besar yang memengaruhi banyak negara. Karena itu, kondisi pergerakan mata uang harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya dari sisi kurs semata.
"Semua negara sedang berdiri di atas panggung yang mulai mengalami likuifaksi, pencairan. Basis ekonominya, suprastruktur politik, budaya, pendidikan, sedang mengalami pencairan," kata Budiman dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Berkecamuk, Penyebab Rupiah Ambruk?' yang disiarkan di iNews, Selasa (2/6/2026).
Budiman meminta seluruh pihak untuk tidak menyederhanakan persoalan apabila krisis ekonomi hanya diukur dari pelemahan mata uang domestik terhadap dolar AS.
"Dalam keadaan seperti itu terlalu mereduksi kalau kita melihat Indonesia krisis hanya karena nilai mata uang kita menurun dibandingkan dolar AS," tuturnya.
Dia mengatakan, tantangan global yang semakin kompleks justru menuntut Indonesia untuk mengambil langkah strategis agar tetap mampu menjaga daya tahan ekonomi nasional. Salah satu upaya yang perlu diperkuat adalah meningkatkan ekspor dan produktivitas nasional.
Menurutnya, pemerintah dan pelaku ekonomi harus mampu menemukan peluang di tengah berbagai hambatan yang muncul dalam perekonomian dunia.
"Dalam keadaan ini kita harus berpikir strategis, kita harus menyiasati, pacu ekspor kita. Kita tengah coba cari celah di antara hambatan agar dolar yang sehat dalam bentuk reward ekspor produktivitas kita," ucapnya.