“Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia,” ungkapnya.
Eks Ketua DK LPS ini optimistis mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 5,4-6 persen. Keyakinan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat serta surplus perdagangan yang berhasil dipertahankan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026.
Selain itu, Indonesia juga mulai memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekonomi digital. Pada tahun 2025, sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,35 persen.
“Indonesia secara aktif terus memperkuat ekosistem AI nasional untuk memastikan peningkatan produktivitas dapat dioptimalkan di dalam negeri, sambil tetap terbuka terhadap kolaborasi global, dan memposisikan Indonesia sebagai pengguna dan pengembang solusi berbasis AI,” jelas Purbaya.
Dalam pertemuan bilateral dengan Dana Moneter Internasional (IMF), Direktur Pelaksana Kristalina Georgieva memuji Indonesia sebagai salah satu 'bright spot' dalam perekonomian global karena kebijakan yang kredibel dan fundamental yang kuat.