JAKARTA, iNews.id – Stigma Aparatur Sipil Negara (ASN) yang hanya bekerja sebatas absen, ngopi, dan pulang didobrak melalui inovasi dan prestasi. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) memberikan apresiasi kepada ASN yang mampu menghadirkan gagasan dan perubahan nyata di lingkungan birokrasi.
Apresiasi tersebut diberikan dalam penutupan Rapat Koordinasi (Rakor) Kemenimipas 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Rakor yang mengusung tema “Dari Evaluasi Menuju Aksi: Wujudkan Kemenimipas Berkualitas dan Berintegritas” tidak hanya membahas evaluasi dan kebijakan strategis, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan penghargaan kepada jajaran Kemenimipas yang berprestasi dan berinovasi.
Salah satu yang mendapat sorotan yakni Wiko Nurdian, Pranata Komputer Ahli Pertama pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wiko berhasil meraih juara pertama Lomba Menulis Opini ASN melalui karya berjudul “ASN Hanya Absen, Ngopi, Lalu Pulang? Aku Jawab dengan Inovasi dan Prestasi”.
Melalui karya tersebut, Wiko mengangkat sekaligus menantang stigma negatif yang selama ini kerap dilekatkan kepada birokrasi dan ASN.
Pesan tersebut kemudian disampaikan melalui panggung storytelling di hadapan pimpinan tinggi, kepala kantor wilayah, serta kepala unit pelaksana teknis Kemenimipas dari seluruh Indonesia.
Selain meraih juara lomba opini, Wiko juga dinilai mampu menunjukkan inovasi melalui pengembangan aplikasi nomor urut surat arsip.
Atas kontribusi tersebut, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto menyerahkan langsung Piagam Penghargaan Anugraha Wira Wibawa Dharmesti Pratama kepada Wiko.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan inovasi yang dinilai mendukung peningkatan kualitas serta integritas pelayanan publik di lingkungan Kemenimipas.
Dalam sambutan penutupan Rakor, Menteri Agus mendorong seluruh jajaran Kemenimipas tidak berhenti pada tahap mengidentifikasi persoalan, tetapi segera melakukan langkah nyata untuk menghadirkan perubahan.
“Setelah rakor ini jangan lagi berhenti pada pertanyaan apa masalahnya, tapi bergerak, lakukan apa yang sudah kita selesaikan dan perubahan apa yang nantinya kira-kira akan kita hasilkan,” ujar Agus.
Menurutnya, inovasi yang dilakukan Wiko menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan anggaran maupun kebijakan besar.