"Ekspor nonmigas kumulatif utamanya didorong lemak dan minyak hewani nabati HS 15, nikel dan barang daripadanya HS 75, serta bahan bakar mineral HS 27. Sektor industri pengolahan naik 8,93 persen dengan andil 7,15 persen, di mana kenaikan terbesar ada pada olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik hasil pertanian, aluminium, serta tembaga," tuturnya.
Dari sisi negara tujuan, China menjadi salah satu pasar utama yang mencatatkan pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia. Nilai pengiriman ke negara tersebut mencapai 54,17 miliar dolar AS atau meningkat 16,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dia mengatakan, peningkatan ekspor ke China didorong oleh komoditas nikel, lemak dan minyak hewani nabati, serta bahan bakar mineral. Secara kumulatif, ekspor nonmigas ke China, Amerika Serikat, India, dan ASEAN meningkat. Sebaliknya, pengiriman ke Uni Eropa dan sejumlah kawasan tujuan lainnya mengalami penurunan.
Sementara itu, kinerja ekspor pada September 2026 juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87 persen.
Ekspor nonmigas pada September tercatat sebesar 26,64 miliar dolar AS atau tumbuh 12,39 persen. Adapun ekspor migas turun 0,99 persen menjadi 0,95 miliar dolar AS.
"Khusus September 2026 nilai ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87 persen, dengan nonmigas naik 12,39 persen menjadi 26,64 miliar dolar AS kendati migas terkoreksi tipis 0,99 persen ke 0,95 miliar dolar AS. Lonjakan ini didorong lemak dan minyak nabati yang naik 89,04 persen dengan andil 8,47 persen, tembaga naik 165,97 persen berandil 1,64 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik naik 24,37 persen dengan andil 1,61 persen," kata dia.