Politikus asal Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengatakan, adalah tugas berat pemimpin Indonesia, karena memiliki luas wilayah dan disparitas, baik fisik maupun non-fisik yang tidak kecil.
Fahri menuturkan, jarak antara Jakarta dan Papua tidak mengandung jarak fisik, tetapi juga mengandung jarak-jarak lain, termasuk jarak psikologis yang semuanya harus dijembatani dengan rencana-rencana yang luar biasa.
"Sekali lagi, pihak yang bermain di kasus Papua selalu banyak, terutama pihak internasional yang selalu ingin agar kedamaian dan stabilitas di Papua itu tidak pernah selesai," ujarnya.
Fahri menilai, harus ada pesan yang sampai ke hati masyarakat, khususnya warga Papua, yang menganggap ada yang tidak beres terkait cara kita melihat Papua.
"Sambil tentunya mendengar apa yang sekarang dalam jangka pendek dituntut masyarakat dan lalu kemudian kita mencoba membangun pengertian jangka panjang tentang keadaan kita," ujarnya.