Menurut hasil identifikasi industri telekomunikasi, gangguan jaringan tersebut didominasi masalah pasokan listrik. Tercatat 701 BTS mengalami gangguan akibat persoalan tersebut.
Selain itu, sebanyak 93 BTS mengalami gangguan pada jaringan transmisi.
“Pemulihan dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing lokasi, baik untuk gangguan pasokan daya maupun jaringan transmisi. Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara telekomunikasi dan pihak terkait agar site yang masih terdampak dapat segera kembali beroperasi,” ucap Meutya.
Komdigi melalui Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) juga terus memantau perkembangan kondisi jaringan. Koordinasi dilakukan bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR), pemerintah daerah, serta seluruh penyelenggara telekomunikasi di wilayah terdampak.
Pemantauan difokuskan pada percepatan pemulihan 111 BTS yang masih mengalami gangguan, terutama di wilayah dengan jumlah BTS terdampak cukup tinggi.
“Kehadiran jaringan komunikasi di tengah bencana bukan sekadar soal konektivitas. Layanan komunikasi dibutuhkan untuk memastikan masyarakat tetap dapat terhubung, memperoleh informasi, mengakses layanan darurat, dan mendukung koordinasi bantuan. Karena itu, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dari upaya penanganan dan pemulihan pascabencana,” papar Meutya.