Bank sentral di berbagai kawasan, mulai dari China, India, hingga ASEAN, berlomba melakukan pembelian logam mulia secara masif sebagai cadangan di tengah kondisi 'gawat'.
Pemanggilan Jerome Powell oleh otoritas hukum AS dan spekulasi penurunan suku bunga menjelang masa pensiunnya terus membayangi pergerakan dolar.
Nilai tukar rupiah yang terus tertekan membuat harga beli logam mulia di pasar domestik menjadi lebih mahal. Meskipun tren utama cenderung menguat, Ibrahim tetap memetakan area support sebagai langkah mitigasi jika terjadi koreksi teknis.
Untuk emas dunia, support pertama berada di level 4.553 dolar AS dan kedua di 4.489 dolar AS. Sementara untuk logam mulia domestik, support berada di rentang Rp2.638.000 hingga Rp2.560.000 per gram.
Di sisi lain, jika penguatan berlanjut, target resisten pertama untuk logam mulia berada di level Rp2.700.000 sebelum mengejar target puncak di Rp2.820.000.
Berdasarkan data terbaru, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Sabtu (17/1/2026) terpantau turun Rp6.000 ke level Rp2.663.000 per gram.