Junanto juga mengingatkan soal kehati-hatian dalam bertransaksi digital. Pastikan mengamankan diri dari serangan siber yang dapat merugikan finansial, seperti manipulasi OTP atau phishing yang saat ini marak terjadi.
"Jadi jangan terpancing imbal hasil tinggi, tapi pastikan investasinya resmi atau tidak. Juga harus melek terkait transaksi digital," kata Junanto.
Bagi BI, kata Junanto, perputaran uang dari transaksi digital sampai investasi menjadi hal yang disorot pula oleh otoritas. Sebab, dari perputaran uang, akan terjadi pula perputaran ekonomi.
Senada, Presiden Direktur PT Visionet Internasional (OVO) Karaniya Dharmasaputra menekankan penggunaan uang digital. Dia paham betul tren anak muda dan masyarakat luas hari ini tidak terlepas dari transaksi secara cashless atau tanpa uang kertas.
"Kalau kita menggunakan uang elektronik, ada tiga yang penting. Yang pertama autentikasi, untuk pastikan siapa penggunanya. Pastikan jasa uang elektronik itu sudah punya sistem anti-fraud yang kuat dan ketiga pastikan penyedia uang elektronik sudah manfaatkan AI untuk menangkal kejahatan siber," kata Karaniya.