Plt Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Fachri Radjab mengungkapkan, berdasarkan hasil analisis, gerhana bulan total akan mulai pada pukul 18.03.56 WIB. Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 18.33.39 WIB, 19.33.39 WITA dan 20.33.39 WIT.
Wilayah Indonesia bagian timur memiliki peluang pengamatan lebih optimal karena dapat melihat fase awal gerhana saat bulan terbit. Sebaliknya, di wilayah barat Indonesia, bulan akan tampak sudah memasuki fase totalitas atau mendekati puncak saat terbit.
“Fenomena ini akan benar-benar berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB (atau tengah malam di wilayah WIT) saat bulan keluar dari bayangan penumbra bumi. Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan,” ujarnya.
BMKG mencatat, sepanjang 2026 diperkirakan terjadi empat kali gerhana, terdiri atas dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Namun, hanya gerhana bulan total pada 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.
Secara astronomi, peristiwa ini merupakan gerhana ke-27 dari total 71 gerhana dalam seri Saros 133. Fenomena serupa sebelumnya terjadi pada 21 Februari 2008 dan diproyeksikan kembali berlangsung pada 13 Maret 2044.