Rudi menjelaskan, tingginya penilaian terhadap Abdul Mu’ti berkaitan dengan program revitalisasi sekolah yang diperluas pemerintah. Pada 2025, program tersebut menyasar 16.617 sekolah. Jumlahnya meningkat menjadi 71.744 sekolah pada 2026.
Sementara itu, Amran mendapat penilaian positif seiring peningkatan produksi beras dan upaya pemerintah mencapai swasembada pangan. Produksi beras pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Lalu ada Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan skor 2,0, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono (2,1), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini (2,2), Menteri Ketenagakerjaan Yassierli (2,2) dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (2,3).
Kemudian, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mendapat skor 1,8, disusul Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait (1,6), Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai (1,5), Menteri Desa Yandri Susanto (1,3) dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan skor 1,2.
Menurut Rudi, persoalan energi menjadi salah satu sorotan terhadap kinerja Bahlil. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, disebut mendorong perpindahan konsumen ke Pertalite dan memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Sementara itu, Nusron mendapat sorotan di tengah kasus dugaan suap di lingkungan ATR/BPN.
Survei Arawicaksa Institute dilaksanakan pada 3-8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Survei menggunakan metode multistage random sampling melalui wawancara tatap muka, dengan margin of error ±2,89 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.