Untuk mengungkap penyebab kejadian, penyidik mendalami indikasi perpindahan material, bekas busur listrik, fungsi sistem proteksi, serta pelaksanaan pengujian, pemeliharaan, dan pengawasan instalasi kelistrikan.
Penyidik juga memeriksa kondisi pagar dan fasilitas penghalau satwa liar di sekitar gardu induk. Selain itu, pengamanan selama pembangunan Transformator 3 serta rekaman CCTV dari server Gardu Induk Baloi turut ditelusuri untuk merekonstruksi rangkaian kejadian.
Irhamni mengungkapkan, perkara tersebut telah naik ke tahap penyidikan pada 16 Oktober 2026. Penyidik juga telah memeriksa 25 saksi dan menetapkan lima tersangka, yang terdiri atas empat petugas PT PLN Batam berinisial RB, ZR, DA, dan AWD serta seorang kontraktor berinisial AEP.
"Perkara naik ke tahap penyidikan pada 16 Oktober 2026. Sebanyak 25 saksi telah diperiksa dan 5 tersangka ditetapkan, terdiri dari 4 petugas PT PLN Batam berinisial RB, ZR, DA, AWD dan 1 kontraktor berinisial AEP. Estimasi kompensasi pelanggan mencapai Rp57,315 miliar," pungkasnya.
Kelima tersangka disangkakan melanggar Pasal 319 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dan/atau Pasal 51 ayat (1) dan/atau ayat (2) juncto Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Ketenagalistrikan.
"Pembuktian difokuskan pada dugaan pelanggaran keselamatan, kelalaian atau pembiaran, hubungan sebab-akibat, dan pertanggungjawaban pidana masing-masing pihak," pungkasnya.