Kisah 4 Rektor yang Jadi Pahlawan Nasional, Nomor 3 Bangun Lab Persenjataan TNI

Alifia Gita Riani
Empat rektor ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional. (Foto: Biro Pers Setpres)

3. Herman Johannes

Herman Johannes. (Foto: Ilustrasi)

Prof Dr Ir Herman Johannes atau kerap ditulis Herman Yohannes merupakan seorang cendekiawan dan politikus Indonesia. Tokoh yang lahir di di Rote, NTT pada 28 Mei 1912 ini mendapatkan gelar insinyur dari Technische Hoogeschool (THS) atau Sekolah Tinggi Teknik di Bandung.

Semasa kuliah, dia aktif berorganisasi. Herman Johannes juga kerap menulis karangan ilmiah dan dimuat di majalah De Ingeniur in Nederlandsche Indie.

Kiprah Herman dalam kemerdekaan Indonesia cukup banyak. Salah satunya, dia pernah membangun laboratorium persenjataan bagi TNI. Dia berhasil pula membuat sejumlah bahan peledak untuk perang melawan Belanda, termasuk bom asap dan granat tangan. Saat Yogyakarta diserang oleh Belanda, Herman mendapat tugas dari Letkol Soeharto untuk menghancurkan jembatan-jembatan penghubung Yogya dengan kota-kota lain guna menghalau musuh.

Pada 1961, Herman dikukuhkan sebagai rektor Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia menempati posisi tersebut hingga tahun 1966. Setelah itu, dia menjabat Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951). Herman Johannes mendapat gelar pahlawan nasional pada 2009.

4. Arnold Mononutu

Prof Arnold Mononutu merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dan dihargai sebagai putra daerah yang gagah berani sekaligus pejuang nasional. Dia lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 4 Desember 1896 dengan nama Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu.

Arnold pernah mengenyam pendidikan di Stovia, sebelum melanjutkan studi ke Belanda di bidang hukum. Di sana, nasionalismenya tergugah.Ketika pulang ke Tanah Air, Arnold berkiprah dalam pergerakan melawan Belanda.

Perjuangan Arnold Mononutu untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuat dirinya ditunjuk untuk memegang beberapa jabatan strategis. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan Kabinet RIS tahun 1949-1950, Menteri Penerangan Kabinet Sukiman-Suwirjo, dan Menteri Penerangan pada Kabinet Wilopo.

Pada 30 Desember 1949, selaku Menteri Penerangan, Arnold mengukuhkan nama Jakarta sebagai nama baru bagi Kota Batavia. Di dunia pendidikan, Arnold juga berkontribusi besar. Dia diangkat menjadi rektor ke-3 Universitas Hasanuddin pada 1960-1965.

Di masa kepemimpinannya, jumlah fakultas Universitas Hasanuddin bertambah, yang semula hanya tiga menjadi sembilan fakultas. Atas jasa-jasanya, Arnold Mononutu dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah pada 2020.

Editor : Rizal Bomantama
Artikel Terkait
Nasional
14 hari lalu

MNC University Jalin Kerja Sama dengan ISI Bali, Dorong Inovasi dan Kreativitas Nasional

Nasional
17 hari lalu

Heboh Awardee LPDP Tidak Patuh, Ini Deretan Kewajiban Kontribusi Alumni untuk Negara

Nasional
2 bulan lalu

Prabowo Ajak Universitas Inggris Bangun 10 Kampus Standar Dunia di RI

Destinasi
2 bulan lalu

Universitas di Korea Perketat Aturan, Pelaku Kekerasan Ditolak Masuk Perguruan Tinggi

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal