Di luar aktivitas kampus, Ellita telah merintis bisnis kue “Ellpastries” sejak masih duduk di bangku SMA di kampung halamannya, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Usaha tersebut dikelola bersama kakaknya dan tetap berjalan meski dia harus mengelolanya dari jarak jauh selama menempuh pendidikan di Jatinangor.
“Ellpastries berawal dari hobi saya membuat pastry, terutama saat pandemi Covid-19. Awalnya hanya membuat untuk keluarga, tetapi karena responsnya sangat positif maka saya dan kakak mencoba menjualnya sebagai usaha kecil,” ungkap Ellita.
“Ilmu Teknologi Pangan yang saya pelajari sangat membantu menjalankan bisnis ini, mulai dari pengembangan resep, menjaga mutu dan keamanan produk, hingga menentukan umur simpan dan kualitas produk agar tetap konsisten,” jelasnya.
Selain menjalankan bisnis kuliner, Ellita juga mengembangkan kursus bahasa Mandarin secara daring melalui “Haola Mandarin”. Kemampuan berbahasa Mandarin membawanya menjadi freelance subtitle translator yang menerjemahkan drama pendek berbahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia serta mengajar kursus bahasa Mandarin.
“Harapannya, kedua bidang yang saya tekuni dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.