Kisah RA Kartini Perjuangkan Kesetaraan Gender

Tim iNews.id
Hari Kartini selalu diperingati tanggal 21 April. R.A Kartini memperjuangkan kesetaraan gender di semua bidang. (foto: Istimewa).

Saat itu, perempuan Indonesia memiliki status yang rendah. Mereka tidak pernah mendapatkan persamaan, kebebasan, dan otonomi serta kesetaraan hukum. Adanya kondisi tersebut membuat miris hati dari Kartini. Ia ingin memajukan nasib perempuan pun tumbuh di hatinya.

Kartini merasa tergugah dan bertekad untuk merubah nasib kaumnya pada masa itu. Setelah dipingit pada usia 15 tahun, akhirnya ia menikah di usia 24 tahun pada tanggal 12 November 1903. Namun sayangnya Kartini bukanlah sebagai istri pertama dari K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, melainkan sebagai istri keempat dari Bupati Rembang itu. 

Kala itu suaminya memahami maksud dari Kartini yang ingin memperjuangkan kaumnya, lalu ia mendukung penuh istrinya. Hal tersebut membuat Kartini semakin teguh dalam pendiriannya untuk membebaskan para perempuan.

Namun, Kartini tidak dapat berjuang lebih lama dalam memperjuangkan derajat perempuan karena ia telah wafat pada usia 25 tahun. Ia meninggal empat hari setelah melahirkan putra semata wayangnya, RM Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904, kemudian Kartini menghembuskan nafas terakhirnya.

Delapan tahun kemudian, tepat di tahun 1912, Sekolah Kartini dibangun oleh Yayasan Kartini yang ada di Semarang. Keluarga Van Deventer, tokoh Politik Etis kala itu yang menggagas berdirinya pembangunan sekolah tersebut. Lalu, tak lama pembangunan pun tersebar Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan beberapa daerah lain.

Peringatan Hari Kartini merupakan bentuk untuk menghormati perjuangan dari R.A Kartini dalam mewujudkan kesetaraan, kesempatan antara laki-laki dan perempuan di era modern yang secara khusus, terutama dalam bidang pendidikan dan secara umum kesetaraan gender di semua bidang. Adanya harapan tersebut, kaum perempuan bisa merefleksikan kembali semangat perjuangan Kartini dan menjadi inspirasi bagi perempuan lain di Indonesia.

Setelah wafatnya, R.A Kartini pada 17 September 1904, ada seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr.J.H Abendanon yang membukukan surat-surat Kartini dengan teman-temannya yang ada di Eropa dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Di dalamnya menceritakan kehidupan perjuangan Ibu Kartini dalam menegakkan hak-hak perempuan.

Editor : Faieq Hidayat
Artikel Terkait
Nasional
13 hari lalu

Puspadaya Perindo Audiensi dengan LBH Iwapi, Sepakat Dukung SDGs Wujudkan Kesetaraan Gender

Nasional
16 hari lalu

Bahlil soal Masih Ada yang Tolak Gelar Pahlawan Soeharto: Saya Doakan Mereka Ikhlas

Nasional
17 hari lalu

Ribka Tjiptaning Dipolisikan Buntut Pernyataan soal Soeharto, Begini Responsnya

Nasional
17 hari lalu

Riwayat Pendidikan Marsinah, Buruh Perempuan yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal