Dalam beberapa bulan berikutnya, rupiah menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS. Menjelang berakhirnya masa pemerintahan Habibie pada Oktober 1999, rupiah bergerak di kisaran Rp8.000 per dolar AS.
Habibie bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi. Dia dikenal sebagai insinyur yang memiliki keahlian di bidang penerbangan.
Namun, dalam menghadapi krisis, dia menyadari bahwa pemulihan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan angka-angka, tetapi juga membutuhkan kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar.
Kepercayaan tersebut menjadi penting karena krisis telah mengguncang sistem perbankan dan mendorong masyarakat menarik simpanan mereka. Ketika kepercayaan terhadap lembaga keuangan melemah, tekanan terhadap perekonomian dan nilai tukar semakin besar.
Salah satu langkah penting pada masa pemerintahan Habibie adalah memperkuat independensi Bank Indonesia. Pemisahan bank sentral dari pemerintah diharapkan membuat kebijakan moneter lebih kredibel dan tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek.