Aksi serupa juga terlihat dari tangkapan layar percakapan antara pembeli dan salah satu toko masker. Penjual meminta kepastian kepada pembeli karena stok yang tersedia terbatas dan masih ada konsumen lain yang ingin memesan.
“Siang kak, ini jadi di order ga ya soalnya stock kita terbatas dan masih banyak yang mau order,” tulis pihak penjual dalam percakapan tersebut.
Pesan itu memperlihatkan pesanan sudah dibuat pembeli, tetapi pembayaran belum diselesaikan. Kondisi tersebut membuat stok barang sementara terikat pada pesanan hingga batas waktu pembayaran berakhir.
Fenomena ini muncul setelah masker, khususnya jenis KN95 ramai diburu masyarakat. Masker tersebut dinilai lebih mampu menyaring partikulat sehingga menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menghadapi kondisi udara yang terdampak abu vulkanik Anak Krakatau.
Sebelumnya, keluhan mengenai lonjakan harga masker juga ramai dibicarakan di media sosial. Sejumlah konsumen mengaku pesanan mereka dibatalkan penjual setelah melakukan checkout.
Pesanan yang dibatalkan kemudian disebut kembali ditawarkan dengan harga baru yang lebih tinggi. Kondisi inilah yang memicu kemarahan konsumen dan mendorong munculnya aksi “balas” dengan memenuhi keranjang hingga melakukan checkout dalam jumlah besar tanpa menyelesaikan pembayaran.
Meski menjadi bentuk protes konsumen, aksi tersebut juga berpotensi mengganggu pembeli lain yang benar-benar membutuhkan masker. Konsumen yang membutuhkan perlindungan dari partikulat abu vulkanik tetap disarankan membeli sesuai kebutuhan dan memperhatikan ketersediaan serta kualitas produk.