Kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak telah memicu spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar saat ini memperkirakan Fed akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini pada pertemuan Juni, tetapi para pedagang terus memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
Dari sisi domestik, sentimen mata uang garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (MtM), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08 persen secara tahun kalender.
Adapun sejumlah faktor yang dinilai paling memengaruhi pergerakan inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Lalu, neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2026 sebesar 89,1 juta dolar AS. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus pada April 2026 terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang membukukan surplus sebesar 3,53 miliar dolar AS.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.960-Rp18.030 per dolar AS.