Mafindo Temukan 2.330 Hoaks jelang Pemilu 2024, Capres-Cawapres Jadi Sasaran

Felldy Aslya Utama
Mafindo menemukan 2.330 hoaks sepanjang 2023, sebanyak 1.292 di antaranya menyangkut capres-cawapres jelang Pemilu 2024. (Foto: Ilustrasi/Antara)

Hoaks Paling Banyak Ditemukan di YouTube

Menurut Septiaji, YouTube menjadi platform yang paling banyak ditemukan hoaks dengan jumlah 44,6 persen, diikuti oleh Facebook 34,4 persen, TikTok 9,3 persen, Twitter atau X 8 persen, WhatsApp 1,5 persen, dan Instagram 1,4 persen.

“Dominasi konten hoaks berupa video menjadi tantangan besar bagi ekosistem periksa fakta, karena konten hoaks video cepat sekali viral karena sering dibumbui dengan elemen yang emosional. Sedangkan upaya periksa fakta konten video membutuhkan proses yang lebih lama ketimbang foto atau teks,” kata dia.

Dia mengatakan, konten yang dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) pun sudah muncul, seperti video deepfake pidato Presiden Jokowi dengan bahasa Mandarin, maupun rekaman suara Anies Baswedan dan Surya Paloh yang dibuat dengan AI ditemukan menjelang pemungutan suara Pemilu 2024.

Dia mengatakan, Mafindo berkolaborasi dengan Bawaslu RI dan Koalisi Masyarakat Sipil Lawan Disinformasi Pemilu 2024 yang terdiri dari 20 organisasi masyarakat sipil, serta Koalisi Cekfakta.com dengan 25 media online dan Koalisi DAMAI dengan 11 organisasi untuk menghadang hoaks Pemilu 2024.

Kolaborasi itu berupa monitoring, pelaporan, dan penanganan hoaks yang sedang dilakukan. Selain itu, koalisi juga memproduksi konten prebunking atau pencegahan hoaks pemilu terutama dalam bentuk video.

“Kolaborasi ini perlu terus diintensifkan dengan melibatkan platform digital, penyelenggara pemilu, pemerintah, dan warganet,” ujar Septiaji.

Sementara itu, Ketua Komite Litbang Mafindo, Nuril Hidayah yang akrab disapa Vaya, menjelaskan hoaks pada Pemilu 2024 berbeda dengan Pemilu 2019. Perbedaan ditemukan pada dominasi konten video.

“Pada Pemilu 2019, hoaks kebanyakan berupa foto atau gambar,” ujar Vaya. 

Dia mengakui hal ini menjadi tantangan pemeriksa fakta. Proses periksa fakta konten video lebih rumit dan lama, dan bisa mengaduk-aduk emosi. 

“Terlebih konten hoaks yang dibuat menggunakan AI, tidak mudah untuk bisa mendapatkan kesimpulan apakah itu hoaks atau bukan," tuturnya.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
Nasional
17 hari lalu

Istana Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional: Mari Lawan Hoaks dan Disinformasi

Nasional
21 hari lalu

Menko Polkam Gandeng Media Lawan Hoaks dan Perkuat Ketahanan Nasional

Nasional
1 bulan lalu

Antam Bantah Kabar Tambang Emas di Bogor Meledak

Nasional
2 bulan lalu

BMKG Tegaskan Informasi Squall Line dan Badai Ekstrem saat Malam Tahun Baru Hoaks

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal