ABU DHABI, iNews.id - Presiden ke-5 Megawati Sukarnoputri menghadiri diskusi meja bundar Zayed Award for Human Fraternity Roundtable 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (5/2/2026) waktu setempat. Dalam diskusi tersebut, Megawati mengungkapkan salah satu topik yang paling menonjol adalah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) itu mengakui manfaat teknologi tersebut. Namun, dia juga menyuarakan kekhawatiran mendalam jika AI dibiarkan tanpa payung hukum yang melindungi kemanusiaan.
"Bagus, tetapi yang sangat dikhawatirkan kalau tidak ada sebuah perlindungan yang nyata, tentunya artinya itu harus melalui masalah hukum, maka takutnya itu malah bisa menjadi merusak," kata Megawati dalam keterangannya.
Megawati memberikan contoh konkret mengenai bahaya manipulasi digital di mana teknologi kini mampu merekayasa visual dan suara seseorang dengan sangat mudah. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang harus bertanggung jawab jika terjadi penyalahgunaan.
"Sebagai contoh, kan umpamanya siapa yang akan bertanggung jawab kalau ada sebuah... sekarang gampang sekali artificial kan? Jadi ternyata dipikir ada orang A itu yang berbicara, padahal tidak," ujarnya.