Maka dari itu, ia berencana mereplikasi desa anggur tersebut ke desa-desa lainnya dan menargetkan 1000 desa anggur guna menjadi daya tarik bagi berbagai desa lainnya.
“Ini mau kami replikasi ke desa-desa yang lain. Target kami lebih kurang 1.000 Desa Anggur, sehingga nanti menjadi daya tarik tersendiri desa itu,” tuturnya.
Tidak hanya menjadi daya tarik, Yandri menilai bahwa dengan hasil dari program tersebut berupa anggur berkualitas tinggi juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Seperti menjadi pasokan untuk program MBG atau diubah menjadi desa wisata dengan konsep Agrowisata memetik anggur.
“Bisa menjadi pemasok MBG dan juga sekaligus desa wisata, misalkan desa petik anggur dan lain sebagainya, ini yang kami lakukan. Artinya, produk-produk desa yang punya daya tarik tinggi, itu kami akan kedepankan untuk menjadi desa-desa tematik,” ucap Yandri.
Meski demikian, keberhasilan program tersebut masih perlu dimaksimalkan dari segi produktivitas mengingat permainan ekspor yang cukup besar.
Terlebih, dia ingin produk yang dihasilkan desa tematik bukan hanya memenuhi kebutuhan ekonomi maupun pangan secara lokal tapi juga harus menjadi Go International.
“Sekarang baru sekitar 400 lebih Desa Ekspor dengan transaksi lebih kurang Rp1 triliun. Nah, kami punya target 5.000 Desa Ekspor. Pembelinya atau buyer-nya sudah ada. Ada 49 negara yang siap menampung produk-produk desa yang sudah dilakukan hilirisasi. Misalkan jahe, serai, kunyit, ya kan, bawang, cabai, pisang, dan lain sebagainya. Banyak sekali permintaan kepada kami. Inilah yang mau kami maksimalkan,” tuturnya.