“Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara. Namun, pengerahan armada tetap harus mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan,” tuturnya.
Pekatnya asap dalam dua hari terakhir menjadi tantangan bagi operasi udara, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.
Asap yang terlalu pekat membatasi pandangan pilot terhadap sasaran dan jalur penerbangan. Karena itu, helikopter tidak dapat dipaksakan menjangkau lokasi pemadaman apabila jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan.
“Keterbatasan operasi udara tidak berarti penanganan berhenti. Ketika pertumbuhan awan belum mendukung OMC atau jarak pandang belum aman untuk water bombing, satuan tugas darat tetap melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan lokasi rawan,” ujar Ristianto.
Dia menegaskan strategi penanganan karhutla akan terus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.