“Kita berempati, kita bersimpati terhadap masyarakat terdampak dan Partai Perindo hadir. Dan kita memberikan bantuan sebagai tanda cinta, tanda kasih kami atas kondisi yang memang terjadi di masyarakat di Flores di NTT ini dan terutama di Kabupaten Manggarai,” ujar Ferry.
Bagi warga, bantuan tersebut hadir ketika mereka masih menghadapi rasa takut sekaligus keterbatasan untuk kembali bekerja. Salah satu perwakilan warga Desa Compang Ndehes, Sabinus Mustaram, mengatakan kepanikan terjadi sejak gempa pertama pada pukul 05.58 WITA ketika sebagian masyarakat masih tidur dan sebagian lainnya sudah terbangun.
“Rasa takut dan trauma ketika terjadi gempa susulan. Itu yang sampai saat sekarang masyarakat di Ndehes itu tidur malamnya di tenda-tenda. Rumah yang mereka tinggali mereka lepaskan itu karena takut terjadi gempa susulan,” kata Sabinus.
Kondisi itu juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian warga yang belum dapat berjalan normal. Sabinus mengatakan masyarakat untuk sementara hanya bertahan di tenda masing-masing sehingga bantuan yang datang langsung ke desa menjadi dukungan bagi warga.
“Kami merasa bersyukur itu dari Partai Perindo turut mengambil bagian dalam duka yang kami alami. Karena kami saat sekarang itu tidak bisa ke mana-mana untuk mencari nafkah, hanya bertahan di tenda kami masing-masing,” ujarnya.
Situasi yang dialami warga Manggarai tersebut menjadi bagian dari dampak luas gempa Flores. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang luka-luka, dan 179.037 orang mengungsi, sementara 81.436 rumah serta 1.951 fasilitas umum, termasuk sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan, terdampak, dengan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua wilayah yang mengalami dampak paling parah.
Di tengah kondisi tersebut, Partai Perindo menilai kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan selama berada di pengungsian. Pemulihan infrastruktur menjadi penting agar masyarakat dapat kembali ke rumah, bekerja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman.