Menurut dia, skenario kedua kemungkinan lebih disarankan oleh Pentagon. Langkah ini juga sudah terlihat di lapangan.
“Amerika sudah mulai melakukan pergeseran kapal induk tambahan dan kapal pendarat Amfibi ke Teluk dan Mediterania, serta menggeser 5.000 marinir (USMC) dari Jepang. Nampaknya skenario B yang lebih disarankan Pentagon,” ucapnya.
Dia juga menyinggung dinamika terbaru di kawasan serta risiko eskalasi lebih luas. Oleh karena itu, kata dia, Pentagon tidak menyarankan skenario ketiga.
“Mengingat kegagalan operasi Epic Fury yang tidak sesuai dengan perkiraan intelijen, Pentagon tidak menyarankan opsi C yang sama dengan serangan awal akhir Februari. Iran mampu memainkan truf Hormuz, sehingga memecah persatuan AS dan para anggota NATO yang lebih fokus dengan kepentingan nasional masing-masing akan kebutuhan minyak dan gas dari kawasan Teluk,” katanya.
Meski demikian, Prayitno tidak menutup kemungkinan adanya keputusan ekstrem dari Trump.