Dari sentimen domestik, Bank Dunia merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Proyeksi terbaru ini lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi lembaga tersebut pada April lalu yang mematok laju produk domestik bruto di level 4,7 persen.
Proyeksi sebesar 5,0 persen untuk tahun ini mencerminkan kinerja perekonomian pada kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan.
Momentum positif mendorong pertumbuhan PDB hingga mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 pertumbuhan kuartalan paling tinggi sejak kuartal II 2021. Kuatnya pertumbuhan di awal tahun tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih menjadi pendorong utama.
Konsumsi tersebut didorong momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diperkirakan akan terus bertumbuh di kisaran 5,0 persen yang didukung oleh stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, yakni mencapai 8,7 persen.
Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto pada kuartal I 2026 juga tercatat bertumbuh solid sebesar 6,0 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860-Rp18.910 per dolar AS. Kemudian dalam sepekan rupiah akan berada di rentang Rp17.780-Rp18.040 per dolar AS.