Kedua proyek tersebut akan menggunakan teknologi bottoming untuk memanfaatkan panas dari fluida panas bumi (brine) yang belum termanfaatkan. Teknologi ini memungkinkan tambahan energi listrik dihasilkan dari pembangkit geothermal yang telah beroperasi.
Dengan demikian, optimalisasi dapat dilakukan pada lapangan panas bumi yang sudah ada tanpa sepenuhnya bergantung pada pembukaan wilayah kerja panas bumi (WKP) baru. Dalam pipeline kerja sama strategis tersebut, total potensi kapasitas pengembangan disebut dapat mencapai 230 MW.
Bernadus menambahkan, percepatan transisi energi membutuhkan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, mulai dari PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor hingga pelaku industri.
“Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” katanya.
Melalui pengembangan PLTP Lahendong Binary dan Ulubelu Binary, PLN Indonesia Power dan PGE berharap pemanfaatan energi panas bumi dapat semakin optimal sekaligus mendukung sistem energi nasional yang lebih bersih, tangguh, dan mandiri.