JAKARTA, iNews.id - Kesepakatan perdagangan nikel antara Filipina dan Indonesia mencapai titik temu dalam sela forum Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Filipina, Kamis (7/5/2026). Kerja sama bilateral ini digadang-gadang dapat mendatangkan investasi di dalam negeri senilai 47,36 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp820 triliun, dan penyerapan 180.600 tenaga kerja, yang ditargetkan tercapai pada 2030.
Kerja sama dua negara direpresentasikan dari Nota kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) dalam forum bilateral di sela-sela KTT ASEAN tersebut. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan sejumlah menteri Filipina menyaksikan kesepakatan.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026).
Airlangga menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang sangat masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai 9,73 miliar dolar AS di 2025. Smelter-smelter yang ada di dalam negeri membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium tepat yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita," kata Airlangga.