Ibrahim menjelaskan, perkembangan cadangan devisa tersebut terutama ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah.
Di sisi lain, terdapat faktor penahan berupa pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia (BI)bdi tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor jika diakumulasikan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut jauh melampaui standar kecukupan internasional yangberada di kisaran 3 bulan impor.
BI menilai cadangan devisa ini sangat memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, dan memelihara sistem keuangan.
Ke depan, bank sentral optimistis ketahanan sektor eksternal tetap terjaga didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran modal asing yang terus masuk. Hal ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional serta imbal hasil investasi yang menarik.