Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali pekan ini bahwa para pembuat kebijakan tetap berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen bank sentral, sembari menekankan bahwa mereka siap untuk menyesuaikan suku bunga jika tekanan harga terbukti lebih persisten.
Dari sentimen domestik, pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.
"Sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang," kata Ibrahim.
Pemerintah juga akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan.
Selain itu, Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings.
S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75 persen. Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.980-Rp18.030 per dolar AS.